Check it to know what in it.
Ketika seseorang yang diharapkan malah memberi
kesedihan kembali,
harus bagaimana aku?
Cendekiawan kata pernah bertutur, berbuat baiklah
engkau kepada siapapun dan apapun perlakuannya kepadamu. Mau dia tusuk kau
dengan belati sampai sekarat tak berdaya, mungkin. Tapi, bagaimanakah seorang
cendekiawan yang sesungguhnya? Ia kah yang membiarkan diri menjadi budak bodoh
dan menikmati sakitnya dipermainkan? Cendekiawan tapi dungu, namanya!
Mencintai bukan sekedar berkorban. Tiap idul adha
juga jatuh korban. Tapi yang ini korbannya berkah, barokah, dapat cinta dari
Allah. Kalau cinta manusia, sudah berkorban, makin terasa sakitnya. Mengingat
Dia tidak ingin diduakan.
Nah, kalau sudah sampai titik ini? Harus bagaimana?
Kembali ke awal, oh tentu bukan cendekiawan namanya. Pilihannya adalah tetap
diam di tempat tapi bertahan dibawah koaran insan dan ego manusia, atau
berjalan saja kedapan dengan pura-pura bodoh seakan tidak terjadi apa-apa, atau
ke kanan, atau ke kiri? Selingkuh, dong? Yah, bukan saya banget. Cinta itu
merangkul bukan membelot.
Loh, kok jadi ngelantur? Nanti dituntut guru loh, “Kamu
kecil-kecil udah berani omong cinta, tahu apa?,, Ya nanti langsung saya jawab,
“Ampun, Bu Guru, tapi buah pemikiran saya tidak memiliki batasan!,,
- Indah
S. N
29
Oktober 2017
16:46
Bogor
deras, bray.
Komentar
Posting Komentar