Aku dan A
Awal Cerita
Akan
aku kisahkan suatu peristiwa yang berbeda dengan yang lain. Tentu, itu karena
kisah ini adalah kisahku sendiri. Kisah (yang biasa dibilang) Cinta 2 anak
remaja di bangku SMA.
Aku
menaruh rasa tertarik dan penasaran pada seseorang di masa Sekolah Menengah
Pertama, sebut saja dia P. 3 tahun jalannya perasaan, aku tidak pernah
sedikitpun menyerah. Aku melengkapi cerita perjuanganku dengan banyak hal
konyol dan memalukan. Maklum, anak tanggung baru sekedar tahu arti cinta.
Singkat cerita, di akhir masa kelas 3 SMP, aku dipertemukan dengan sahabat P,
dia adalah A. A ini sedikit banyak membantuku. Memberi banyak informasi
mengenai P dari yang paling manis sampai yang paling tidak mengenakkan. Pernah
suatu ketika A, pertama kali, membuat aku menangis. Aku menangis karena dengar
kabar buruk kepindahan P untuk SMA nanti dan kabar mencengangkan lainnya, P
sudah memiliki tambatan hati. A selalu ada untuk mengibur dan mendukung aku.
Terhitung dari Bulan Desember 2014, A dan aku saling bertukar cerita.
Aku
memang perempuan yang paling kacau kalau masalah ini. Sudah jelas betul aku
ditolak oleh P, namun tetap saja, perasaan dan do’a masih terus tercurah demi
untuk kebersamaan aku dan P yang mustahil. Kala itu aku dan A semakin dekat. A
adalah laki-laki yang sangat baik. Tidak jarang pemikiran kami selalu sejalan,
disertai lelucon kami yang selalu menghibur satu sama lain. A yang cerdas namun
juga yang tidak pintar akan kata-kata. A yang perhatian dan selalu ada. Aku
senang dengan kehadiran A yang membuat aku lupa akan P.
Hingga
suatu hari,
A
menyatakan perasaannya tentang dia terhadap aku. A jatuh cinta kepadaku. A
menyampaikan pesannya hanya terhitung beberapa hari sebelum kami masuk Sekolah
Menengah Atas yang sama atas kehendak-Nya. Sungguh, belakang itu aku sering
jatuh dalam ungkapan dan perkataan A. Aku perlahan mengagumi A sejak pertama
kita berhubungan. Namun seperti yang aku bilang diawal, aku masih saja dengan
bodohnya mempertahankan perasaan aku terhadap P dan bodoh menolak A dengan
berbagai alasan yang bisa diterima olehnya. Aku sungguh senang tapi penuh dusta
karena menolak. Perlahan aku menyesali dan tetap menjalani semua.
Selepas
pernyataannya pada 11 Juli 2015 dan tolakanku pada hari itu juga, A tidak
menyerah untuk mendekati dan memperjuangkan aku. Dengan segala yang ada pada
diri A, aku luluh dan bangkit dari masa buruk mengejar si P, sahabatnya. Aku
dan A menjalani hari dan sekolah yang sama, bertukar cerita akan apa saja yang
terjadi setiap harinya, A yang selalu hadir di titik terendahku dan selalu
menghibur kapanpun aku membutuhkannya. A begitu menyayangi aku dan begitupun
aku yang mengikuti setelahnya. Hari demi hari, aku semakin mengenal A. A, Si
Manusia yang kurang membuka diri dan aku yang cenderung suka berteman. Awal
bangku SMA, A kerap kali cemburu terhadap beberapa temanku dan khawatir ketika
aku banyak mengikuti kegiatan di luar. Aku seringkali risih bahkan ingin
melepaskannya. Namun A selalu kembali dan memohon, aku sampai ingat ketika A
menangis di depan aku. Aku membencinya kala itu, tetapi entah mengapa hatiku
malahan bertambah yakin dan percaya dengan apa yang dikatakannya. Aku menerima
maaf A dan aku mencoba untuk membuka tangannya bergaul dengan sesama. Aku ingat
sekali, aku berani berkomitmen bukan karena sifat A yang aku suka dan bukan
karena pandangan orang lain terhadap A dan aku. Aku berani menjalani kisahku
dan A karena aku yakin, kami ada untuk saling melengkapi dan saling belajar
mencapai apa yang dicita dari perjalanan ini. Aku tidak pernah peduli apa yang
orang lain pikirkan mengenai hubungan aku dan A yang dianggap tidak jelas dan
tanpa status. Tanpa perlu aku umumkan kepada khalayak, A pasti tau, sejauh apa
aku menganggapnya ia dihidupku dan bagaimana aku menganggap hubungan ini.
Mereka yang diluar hanya mengawasi, dan Aku juga A, yang menyikapi bagaimana
baiknya hubungan kami tetap berdiri. Beberapa konflik kecil berdatangan di awal
tahun, aku dan A terus belajar dan melewatinya.
Dan
kini A membuka lebar kehidupan sosialnya. Lalu apa hubungannya dengan hubungan
kami? A yang dulu banyak bergantung dan menyayangi penuh aku, kini sudah dewasa
dan sadar arti penting teman. Aku bahagia, sungguh. Meski mungkin rasanya
sampai saat ini A tidak meyakini kebahagiaan aku atas pencapaian yang
didapatnya. Aku juga turut bangga karena aku juga ingat, aku yang berkali-kali
mendorong A untuk maju dan mengenal kembali temannya, memiliki sahabat. A
merasa saat ini ia berhasil mendapat semua itu. A menikmati waktunya… bersama
temannya. Jujur, banyak guncangan yang aku dapat selepas perilaku A yang
berbeda, tetapi aku terus meyakinkan diri dan belajar untuk menerima A saat
ini. Karena beberapa guncangan yang aku hadapi, A menganggap aku childish dan berlaku sebagaimana ia
waktu di awal bangku SMA. Dan berkali kali sampai detik ini, A masih meyakini
beberapa sifat terguncangnya aku buruk dan mengganggunya. Aku berlebih dan
pecemburu, sebut A. Sungguh, aku terima perkataannya. Tanpa perlu A tahu
sesungguhnya aku belajar memantaskan diri dan mengontrol egoku. Aku tidak tahu,
mungkin sampai saat ini A menganggap aksiku bernilai 0 dan bohong. A juga tidak
mengetahui waktu 24 jamku, yang
akhir-akhir ini diselimuti kesedihan dan sakit yang meradang hanya karena
merenungkan keburukan aku menurutnya dan mencoba memperbaiki, agar jadi
sempurna, untuk A. Baru-baru ini, aku mengetahui bahwa cita-cita A adalah
menjadi orang yag selalu dikenang dan diingat secara pribadi oleh banyak orang.
Sebelum pernyataannya, aku membaca pesannya dengan seorang temannya di direct message Instagram, begitu dekat
dan perhatian. Hari itu ia memohon maaf kepadaku telah melakukan hal sejahat
itu karena perilaku aku yang berlebih dan karena konflik kami yang terjadi
akhir-akhir ini tiada henti. Aku begitu hancur. Dalam 1 hari aku menangis
puluhan kali setiap mengingatnya. Hari ini kami berjumpa, berbeda dengan
pernyataan kemarin, A tidak begitu menyesal. Seperti yang aku bilang
sebelumnya, A yakin betul bahwa ia bisa menjadi ‘sahabat’ yang baik untuk
banyak orang. Dalam tangis aku terhenyuk, duhai, A. Aku sampai kehabisan kata-kata
untuk mendeskripsikan betapa sakitnya aku hari ini. Aku tetap percaya dengan
perkataanmu hari ini juga yang mengatakan bahwa aku tak perlu takut karena
bahwasannya kau adalah milikku dan aku sebaliknya. Hari ini kami memutuskan
saling mengistirahatkan diri kembali tanpa mengisi ruang satu sama lain. Akhir
kata, aku tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan tetap memperjuangkan
adanya kami.
Namun
satu yang tak akan pernah aku lupa dan tinggalkan, A keras dan begitupun aku.
Aku sering mengalah dan mengedepankan A.A juga merasakan hal yang sama, A
mengalah hanya untuk aku. Kebenarannya tak ada yang pernah tahu sampai entah
kapan kisah kami akan bertahan.
Untuk
A, bila kau bersedia membaca kisah kita dan apa yang aku tulis dalam
halaman-halaman ini, ketahuilah betapa aku bahagia bertemu denganmu dan
berharap perasaan kita akan terus sama seperti diawal kita saling jatuh hati.
A, jaga baik-baik dirimu, kau terlalu berharga untuk aku dan teman-temanmu, Ich Liebe Dich.
(Sekian!
Untuk teman pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktunya, terima kasih. Dan
maaf bila dirasa kisah ini mengganggu kalian karena sesungguhnya sastra adalah
senjata dan aku menuangkan kelabu hati dalam kata-kata.)
Salam, Indah S Nur’aini.
Komentar
Posting Komentar