Negative?

Setelah mengenal lama seseorang, kita selalu merasa bahwa kita telah mengetahui betul siapa orang tersebut sepenuhnya. Itu terjadi karena kita terbiasa meghabiskan waktu bersama dengan orang tersebut dan terbiasa menganalisis orang lain melalui pemikiran dan bukan sekadar perilaku. Saya tidak banyak mengenal seseorang berdasarkan cara pemikiran apabila kami jarang melakukan pembicaraan yang dalam. Sebuah kejutan datang pada saya hari ini: seorang teman yang cukup dekat dan lama, baru saya ‘kenal’ kembali.
Teman saya ini secara tersirat bercerita bahwa pemikirannya tentang hidup cenderung didominasi dengan sesuatu yang negatif.  Sebagai anak SMA di tahun terakhir, ia menceritakan kisah SMA klasik mengenai perasaannya akan seseorang yang berkaitan dengan pemikiran negatif akan hal itu. Dia memang tidak banyak bercerita kepada saya, tetapi saya mendapatkan beberapa poin penting dari apa yang ia katakan. Tulisan ini terealisasikan oleh kepedulian saya akan hal ini dan upaya saya untuk memperbaiki diri.
Saya memperhatikan gerak gerik ia sebagai suatu representasi dirinya pada saat ini. Menggambarkan suatu ketiadaan harapan. Mendengarkan ceritanya sama halnya seperti berkaca. Saya pernah menjadi seperti kamu.  Namun, tentu seperti yang kita tahu, beda orang, beda cerita. Inti dari kami adalah satu, membunuh jiwa melalui pemikiran negatif.
Berdasar beberapa sumber, berpikiran negatif (atau biasa disebut Negative Thinking) adalah pola berpikir yang lebih condong kepada hal-hal negatif daripada hal-hal positif yang tampak dari pemikiran dan perilaku seseorang sehingga menimbulkan berbagai prasangka dan asumsi-asumsi yang belum tentu benar, juga kecurigaan dan ketidakpercayaan. Teman saya berkata bahwa ia menikmati pikiran-pikiran negatif yang berkeliaran walau ia sadar bahwa dalam waktu yang sama, pikiran-pikiran tersebut lah yang membunuh dirinya secara perlahan. Ia menyadari bahwa ia telah membuat suatu konstruksi negatif dalam pemikiran dengan alih sebagai suatu kesenangan yang ia ciptakan sendiri.
Saya tidak bisa menyalahkan keputusannya untuk menikmati hal itu karena yang menjadi pelaku utama dalam kenyataan ini adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Saya atau dia atau siapapun di dunia mungkin terpaksa terarah untuk selalu berpikir buruk karena berbagai peristiwa pilu yang telah kita lalui. Namun sepantasnya kita harus mengingat bahwa berpikiran negatif adalah sesuatu yang tidak menguntungkan dan melelahkan. Merugikan diri sendiri bahkan orang lain, merusak pemikiran, mempersulit keadaan, memudarkan kenyataan yang ada, citra diri membuat pribadi yang sulit berkembang ke arah yang lebih baik dan menyebabkan kekacauan mental (stres). Hey, we have a life and not forever, so don’t waste our time, kita sungguh dalam keadaan yang merugi. Orang yang berpikiran negatif dikatakan cenderung sulit menerima kritik dan sempit pikirannya. Tetapi mari kita ingat, sebagai manusia yang berpendidikan, kita dituntut untuk berwawasan luas dan menerima kritik. Sehingga menurut saya, jika kita mengatakan bahwa, “Saya tidak percaya diri untuk impian ini”, “Ini tidak mungkin terjadi,” atau “Saya tidak mampu”, It’s a big NO. Sebesar apapun tingkat negatif dalam pemikiran, pasti selalu ada landasan positif yang lebih kuat di atas itu. Pemikiran negatif terbentuk karena diri kita yang mengurung dan mengingkari potensi diri.
Saya juga tidak bisa mengubah pemikiran orang lain bahkan diri sendiri dengan begitu mudahnya. Sesuatu membutuhkan pembiasaan yang dimulai dari sebuah perubahan. Yang terpenting adalah untuk menjadi berani. Memulai langkah awal untuk mengubah sesuatu yang negatif menjadi sesuatu yang positif dan kemudian tearah kepada Right Thinking, keadaan nyata dan yang sebenarnya tanpa perlu memikirkan sesuatu kekhawatiran yang merusak. Menjadikan sesuatu seutuhnya rasional.
Beberapa hal dapat kita lakukan untuk memperbaiki pikiran negatif seperti melalui diskusi dan membentuk mood yang positif dengan membaca atau menuliskan kutipan yang positif setiap harinya, mendapatkan informasi dan memperoleh hiburan dari percakapan yang bermanfaat, selalu ingat bahwa Tuhan mengajarkan untuk selalu berprasangka baik dan memandang segala sesuatu secara positif. Percayalah, manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, sehingga jangan pernah ragu akan kemampuanmu meraih sesuatu. Don’t think about what might go wrong, think about what could go right. J
Semangat! Ayo berpikiran positif dan bermanfaat untuk sesama. (Saya juga sedang belajar, hihi.)


Salam, Indah S Nur’aini.

Komentar

Posting Komentar